/

/

Sejarah Markas Daerah PDF Print E-mail
Written by rd3   
Wednesday, 11 October 2006 07:42

SEJARAH MARKAS DAERAH JAWA BARAT

Setelah Proklamasi kemerdekaan RI tanggal 17 Agustus 1945, suasana kota Bandung tepatnya pada bulan Oktober 1945 digoncangkan oleh berbagai bentrokan senjata antara tentara Belanda dan sekutu – sekutunya dengan pemuda – pemuda Indonesia yang tergabung dalam TKR ( Tentara keamanan Rakyat ), dan tidak terhindarkan lagi korban mulai berjatuhan.

Keberadaan PMI yang belum sempat mengkonsolidasikan dirinya menjelang penyerahan dari NERKAI ( Nederlandsche Rode Kruis), pertama kali bermarkas di bekas Palace hotel di Kebon Jati belum dapat berbuat banyak. Namun dengan sarana dan logistic yang masih sanagat minim, regu – regu P3K dengan tidak mengenal jerih payah dan rasa takut segera mmberikan pertolongan, ratusan korban dapat diselamatkan dan di tampung diMarkas PMI dengan diberikan bantuan berupa makanan, obat – obatan dan kesehatan.

Banjir di Cikapundung

Disamping memberikan pertolongan dan bantuan kepada para korban akibat pertempuran yang harus dilaksanakan dengan serba cepat serta mempertaruhkan jiwa para anggota PMI itu sendiri, PMI pun dihadapkan pula kepada peristiwa lain yang amat tragis yang terjadi pada saat itu yaitu harus memberiakan pertolongan dan bantuan para korban banjir kali cikapundung yang terjadi pada tanggal 26 November 1945. Dalam waktu beberapa menit air Kali Cikapundung meluap dan banyak menimbulkan korban jiwa serta kerusakan harta benda yang tidak sedikit jumlahnya, anggota PMI segera memberikan pertolongan dan berhasil mengumpulkan lima ratus mayat terdiri dari pria, wanita, anak – anak dan orang tua, dan beratus – ratus korban lainnya yang selamat dari bahaya maut dan ditampung oleh PMI kepada mereka diberikan makanan, obat – obatan dan perumahan karena pemerintah kota ( Haminte ) pada waktu itu belum siap, pertolongan dari PMI tersebut berpusat di markas PMI di Kebonjati bekas Palace Hotel dahulu.

Gedung PMI kena Mortir

Tanggal 28 November 1945 rakyat Bandung harus meninggalkan Bandung utara dan pindah ke sebelah selatan jalan kereta api demi keselamatan jiwa mereka berduyun – duyun menuju daerah selatan sambil membawa harta benda yang dapat mereka bawa, sementara itu pertempuran terus berkobar dan dalam pertempuran itu PMI di kebon jati kena mortir sehingga PMI harus pindah ke Rumah Sakit Situ Saeur, kesulitan timbul ketika tentara sekutu menghalang – halangi dipindahkan ke rumah sakit Cicendo, disamping kesulitan yang selalu dihadapi oleh PMI, ada pula yang menggembirakan PMI yaitu ketika PMI dapat menemukan simpanan Kapas dan gas berpuluh – puluh peti banyaknya sehingga dari hasil penemuan tersebut PMI di Jawa Barat dapat membantu tempat – tempat yang lainnya sperti Yogyakarta dan Surabaya.

Bandung Lautan Api

Di Bandung utara PMI mengorganisasikan kedudukannya dan membentuk pos PMI disepanjang jalan besar dan membentuk rumah sakit darurat, pada tanggal 24 Maret 1946 Pemimpin tentara sekutu dengan keras memeinta agar rakyat yang berdiam di sebelah selatan kereta api menyingkir lagi meninggalkan kota ini sejauh 11 km dari pusat kota dan sekali lagi rakyat berduyun – duyun meninggalkan kota dengan membawa harta seadanya, walaupun kesedihan menimpa mereka menerima penderitaan itu dengan hati yang tabah dan tidak terdengar eh dan ratap tangis, mereka bergerak dengan tergesa – gesa meninggalkan untuk menyelamatkan diri, dentuman dinamit , bom dan rumah yang terbakar mengiring kepergian mereka meninggalkan kota Bandung yang dicintainnya, bandung menjadi bandung lautan api.

PMI turun tangan dan memberikan pertolongan dan membantu mereka kurang lebih 250 ribu jiwa walaupun hanya kira kira 50ribu jiwa saja yang tertinggal di kota Bandung. PMI pun meningalkan kota Bandung dengan segala kekayaannya berupa obat – obatan dan bahan makanan, RS segera didirikan antara lain di Sadu ( Soreang ), Banjaran, Ciparay, Cicalengka dan Majalaya, pusat PMI dari Bandung dipindahkan ke Garut demikian juga RS darurat Ciparay dipindahkan ke Ngamplang Garut, sedangkan pos – pos PMI digaris depan terus didirikan oleh PMI dipimpin oleh Dokter – dokter sedangkan yang membantunya diatur oleh PMI kemudian secara bergiliran, sementara pasukan Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) PMI maju kegaris depan, ketika clash pertama PMI bertebaran kegunung- gunung dan angota-anggotannya terus memberikan bantuan dan pertolongan kepada pejuang pejuang kemerdekaan, kepada rakyat anggota anggota PMI mendirikan poliklinik-poliklinik di desa pegunungan. Demikian sekilas gambaran tentang perjuangan PMI di Kota Bnadung dan sekitarnya selama masa revolusi kemerdekaan tahun 1945 berjuang bahu membahu dengan masyarakat yang dengan penuh semangat turut serta melaksanakan pekerjaan kepalangmerahan demi kepentingan kemanusiaan dan demi kepentingan perjuangan bangsa Indonesia merebut kembali kemerdekaannya. Peristiwa serta langkah langkah yang dihadapi oleh PMI dikota kota lain didaerah jawa barat tidaklah berbeda seperti apa yang terjadi di sekitar Bandung, di Daerah Bogor, Cirebon dan Jakarta, keadaan ini terjadi sekitar tahun 1945 – 1949 dimana pada hakekatnya maupun belum dikenal dengan sebutan nama – nama cabang PMI seperti dewasa ini namun PMI telah menunjukan kegiatannya berdampingan bahu membahu dengan pemerintah dan Masyarakat menolong sesama manusia yang menderita.

Menjelang kelahiran PMI Daerah Jawa Barat yang sebenarnya tidak dapat dilepaskan dari sejak bergejolaknya revolusi kemerdekaan di Bandung dan sekitarnya, terdapat beberapa perintis / tokoh yang tidak dapat dilupakan antara lain : Prof.dr.Sardjito, dr.Djoendjoenan, dr.Moch Kartobi Tartawidjaya, dr Rafe’i, dr Suparda, dr Admiral, dr Semeru, dr Poerwowihardjo dan para sukarelawan lainnya yang tidak dapat disebutkan satu persatu namanya.

Sejak berdirinya PMI di daerah Jawa Barat pada tahun 1945 sampai menjelang awal tahun 1955 cabang – cabang PMI yang tersebar diseluruh Jawa Barat pada saat itu belum banyak jumlahnya yaitu PMI cabang Banjar, Sumedang, Bogor, Majalengka, Tasikmalaya, Garut , Bandung, dan Cirebon sehingga pada saat itu belum dibutuhkan adanya kordinator di Jawa Barat, barulah menjelang tahun 1956 agaknya kebutuhan akan adanya kordinator ditingkat Propinsi Jawa Barat sungguh diperlukan lebih lebih dengan kondisi pada saat itu juga dikuatkan pula oleh AD/ART PMI yang telah disempurnakan dan disahkan oleh kongres yang ke VI di Tawamangun pada tanggal 13 sampai 16 Desember 1954 dimana terdapat dalam Bab VIII pasal 41 yang menyatakan al :

  1. Manakala oleh cabang – cabang dalam satu Propinsi dirasakan perlu dapat di dirikan satu badan koordinasi
  2. Badan koordinasi itu dinamakan pengurus Daerah.

Maka atas prakarsa PMI Cabang Bandung maka diadakan persiapan persiapan dan didalam rapat pada tanggal 17 Juni 1956 yang dihadiri oleh cabang Garut, Tasikmalaya, Kuningan, Majalengka, dan Bandung bertempat di Bandung, pada saat rapat tersebut diputuskan untuk membentuk Pengurus Daerah Jawa Barat, Markas daerah PMI Jawa Barta berkantor di Jalan Nias No 2 Bandung bersama sama dengan markas PMI cabang Bandung , setelah PMI Bandung mendapatkan markas cabang di jalan Aceh No 79 Bandung Markas Daerahpun pada tahun 1967 ikut berpindah ke jalan Aceh No 79 Bandung, bulan Januari 1977 adalah suatu peristiwa yang cukup penting bagi pembangunan PMI Daerah Jawa Barta dimana pada saat itu telah dilaksanakan peletakan batu pertama pembangunan gedung markas PMI Daerah Jawa Barat yang berlokasi di Jln Ir H Djuanda No 426 A Bandung, sejak bulan Juli 1977 PMI Daerah telah mepergunakan gedung tersebut untuk markas Daerah hingga saat ini .

Last Updated on Monday, 15 March 2010 10:33